Pages

Tuesday, 17 February 2015

Menuntut Ilmu menurut Para Sahabat dan Ahli Hikmah

Para Sahabat dan Ahli hikmah memberikan pendapatnya tentang keutamaan menuntut ilmu diantaranya Ibnu ‘Abbas ra. Berkata, “Aku pernah tidak menyhukai seorang pencari ilmu, namun sungguh aku sangat memuliakan apa yang dicarinya (ilmu itu sendiri).

Ibnu Abi Mulaikan ra. Juga pernah mengatakan’ “Belum pernah aku menyaksikan orang seperti Ibnu ‘Abbas ra. Dalam urusan menuntut ilmu. Apabila aku melihatnya, maka tampaklah raut wajahnya sangat menawan. Apabila ia bertutur kata, maka lisannya amat lancer mengucapkan kalimat demi kalimat yang tersusun indah. Dan apabila ia memberikan fatwa (pendapat hukum), maka ia adalah orang yang sangat menguasai ilmunya.”

Ibnu Al-Mubarak ra. Berkata “aku heran kepada orang yang tidak suka (malas) menuntut ilmu. Bagimana mungkin ia mampu membawa dirinya kepada kemuliaan tanpa rela menuntut ilmu?”.

Seorang ahli hikmah pernah berkata, "Sesungguhnya, aku tidak bisa berbelas-kasih kepada salah seorang dari dua orang berikut ini; yaitu, orang yang menuntut ilmu namun tidak memahaminya karena meremehkan ilmu yang sedang dituntutnya, dan orang yang memahami ilmu namun tidak menuntut adanya pengamalan atas apa yang telah diketahuinya."

Abu Al-Darda' ra. pernah berkata, "Aku lebih suka mempelajari satu persoalan agama hingga tuntas dibandingkan dengan mengerjakan shalat sunah sepanjang malam."

Abu Al-Darda' ra. juga pernah berkata, "Hendaklah kalian termasuk orang yang berilmu, orang yang mempelajari ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu. Dan jika kalian tidak termasuk salah satu di antara ketiganya, maka binasalah kalian."

'Atha' juga pernah berkata, "Satu majelis ilmu yang ditegakkan kebenaran di dalamnya mampu menutupi dosa tujuh puluh majelis lain (selain menuntut ilmu) yang di dalamnya terjadi kesia-siaan."

'Umar Ibnul Khaththab ra. pernah berkata, "Meninggal dunianya seribu orang ahli ibadah yang suka mengerjakan shalat sunah sepanjang malam dan berpuasa sunah sepanjang siang hanyalah penggalan dari malapetaka kecil jika dibandingkan dengan meninggal dunianya seorang ahli ilmu yang  mengetahui urusan yang dihalalkan maupun yang diharamkan agama."

Imam al-Syafi'i Rahimahullah pernah menyatakan, "Menuntut ilmu agama itu jauh lebih utama daripada melakukan ibadah-ibadah yang disunahkan."

Ibnu 'Abdil Hakam Rahimahullah juga pernah mengatakan, "Aku pernah belajar ilmu agama pada Imam Malik bin 'Atha' Rahimahullah. Lalu masuk waktu shalat Zhuhur. Segera aku kemasi dan kumpulkan semua kitab yang tengah kami pelajari untuk bergegas mengerjakan shalat berjama'ah. Imam Malik pun berkata, ' Wahai Ibnu 'Abdil Hakam, tidaklah yang engkau bangun dan hendak segera mengerjakannya itu (shalat di awal waktu) lebih utama dari apa yang saat ini engkau berada di dalamnya (mempelajari ilmu agama); tentunya apabila niatmu dalam menuntut ilmu agama benar dan semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah 'Azza ura jalla."'

Abu Al-Darda' ra. juga pernah mengatakan, "siapa saja yang berpendapat bahwa berangkat mencari ilmu bukan bagian dari berjihad di jalan Allah Swvt., maka ia adalah orang yang pikiran dan akalnya dangkal."

*Disarikan dari Kitab Ihya’ ‘Ulumiddin karya Al-Imam Al-Ghazali

No comments:

Post a Comment